Monday, September 14, 2009

Working for this sooooo-called company...on ground

Pagi ini, 14 September 2009, 10 menit kemudian

hidup saya sebagai tenaga kerja kantoran dimulai kembali,

walopun untuk sementara hanya akan berlangsung 2 minggu, melihat kondisi permukaan wajah tentu saja

kita lihat dimana gua akan berakhir nantinya

Sunday, September 13, 2009

Doa ga berjudul

Tolong saya Tuhan,

Dengan segala kelebihan yang Kau berikan, aku masih rendah diri akut
Dengan segala kekurangan yang juga Engkau timpakan, aku masih berkacak pinggang
Aku tahu ada yang salah, tapi tidak tahu apa yang ‘ada ‘ itu.

Saya capek berada di tengah kerumunan orang-orang yang saya tidak mengerti
Dan mereka juga capek untuk berusaha memahami saya

Saya capek menangis untuk sesuatu yang saya kerjakan
Dan saya juga capek mengerjakan sesuatu yang membuat saya sesenggukan

Saya tahu saya egois

Saya punya kasih, sanak, tempat tidur, makanan untuk dikunyah, dan Engkau
Tapi saya harus berdoa kepadaMu Tuhan,

Ijinkan saya ditempat saya seharusnya berada,
Perjelas indera hamba agar peka terhadap tanda-tanda takdirMu

Walaupun itu berarti saya harus ke Afrika dan berdampingan dengan singa-singa
Atau ke Alaska dan tidur di bawah titik nol.

Asal saya bahagia

Lahir , batin, dunia, akhirat, jiwa, raga, akal, dan budi

Saya tidak peduli.

Beruntunglah orang-orang yang menemukan Zahirnya

Aku berdoa padaMu Tuhan, pertemukan aku dengan Zahirku

Amin

Wednesday, September 9, 2009

The So-Called Blog Marathon

Hari ini saya tertawa, menangis, terdiam, lalu tertawa lagi.

Dan saya tidak tahu bagaimana saya akan berakhir malam pagi ini.

Dua malam terakhir saya membaca blog teman2 saya. Beberapa sudah inaktif dan siap R.I.P, beberapa masih segar bugar layaknya remaja baru dapat pacar.

Masing-masing mencerminkan plot yang berbeda. Ada yang sedih, lucu, suicidal, happy, mulai dari terang gulita hingga gelap benderang, semua tipe alur saya dapatkan hingga malam ini.

Semuanya mencerminkan hal yang sama: SAYA.

SAYA SAYA SAYA SAYA.


 

Ego has a voracious appetite, the more you feed it, the hungrier it gets.

Itu yang dulu membuat saya berhenti nge-blog. Saya muak melihat diri sendiri dalam rancah maya, dan sebal melihat ego yang super besar memacu sisi sanguin untuk berlomba-lomba mendapatkan komentar paling mutakhir


 

"eh eh liat blog gw ya, kasi komen"

................................

Kembali ke blog-blog teman-teman saya..

Jam-jam pertama saya terkikik, lalu terusik, dan kejenuhan dimulai..tapi saya tetap membaca.

Sekarang sudah 28 jam berlalu sejak saya pertama membaca blog dalam blog marathon kali ini, yang notabene adalah blog kakak saya.

Dan terakhir saya membaca blog milik seorang teman yang wajahnya cuma saya kenal lewat YM, FB, dan Plurk , itupun nyaris selalu ketutup objek lain (entah hape, rambut, atau meja)

Dengan sangat heran, saya bingung bagaimana sebuah blog, yang begitu banyak bercerita tentang diri mereka sendiri, bisa membuat saya tidak...muak

Seperti dulu saya muak melihat blog saya sendiri.


 

Blog-blog yang saya baca dua malam ini, punya kesamaan yang sanggup membuat saya bertahan membaca, hingga 2 dinihari.

They're so, real.

Mungkin itu yang saya cari. Kejujuran dalam bercerita. Dan Tuhan dan saya sama-sama tahu, sudah 7 tahun saya kehilangan kejujuran itu.


 

In the beginning.


 

Monday, November 3, 2008

Cloudy days

It is Monday. And it should've been a good kick-start for this week, for I didn't wake up late and ate my breakfast before I went by. I have troubles settling myself in this office. The people are good. The environment is good. But something is bothering me by now. I don’t think I like this office, with all those privileges. I feel like drowning every time I stepped in. I wish, for once, I know what I’m pursuing at. Hell, this madness is killing me.

Wednesday, September 24, 2008

Bolot ama Berani bedanya tipis


Kemaren si vidong didong telpon gw jam 8 kurang dikit. Gw masi di buswei.



"Lu masi dibusway?lu ga TengGo yak"


dan setelah beberapa pembicaraan bahwa "jalur busway diserobot mobil pribadi", "wartawan-wartawan yg minta gizi tambahan kalo tidak akan jatuh korban", "gw solat istikharoh dan decided a to give a so-called-PR-rejection to DaaiTV", gw mutusin untuk



"vid, gw putus dulu yak. Ga safe"


Pas gw mo masuk mobil angcot, tiba2 tas gw dering, nah itu berarti hape gw yg dering. Vida is calling...ah keburu mati..yasu gw telp



"Halo vid, yaayayayayayyaaa, haaaaaa, blablablablaa"


tiba-tiba ekor mata gw nangkep bapak-bapak usia 40an, sipit, dijamin pas remaja ga pernah mbersihin muka dan (mohon maaf bagi yg Batak).. Batak, mendaratkan pantatnya disebelah gw



"Wahahaaa, vid gw ttutup dulu yaa"


nah, setelah gw tutup telpon, disinilah kebolotan gw beraksi


Bapak: " ...Ngsss..ngsss...sukk.."

Gw: "Hah, ada apa Pak?"

Bapak: "..Mgsshh...sukkin"

Gw: "Iya Pak, saya ga denger"

Bapak: (mulai ga sabar) "..RSsss..Ngss..napa masukkin?"

Gw: (berusaha membaca bibir) "apanya nih pak?"


Si Bapak melengok ke kiri dan kanan, lalu berusaha mendekat ke pojok. Karena gw dipojok, ya gw pindah ke sebrang. Sekalian biar bisa ngadep tuh Bapak baca gerakan mulut.


Bapak: (Mulai diam, dan memandang ke arah gw, kesal)

Gw: (Melihat ke arah mulut dan mata, berharap si bapak mengucapkan sesuatu yg jelas terbaca)

Bapak: (Masih diam, dan terus melihat)

Gw: (Merasa aneh kok jadi liat2an, akhirnya nanya) "Maap Pak, saya ga jelas bapak mau apa"

Bapak: "Sekarang gw ngomong baek2 ya.."

Gw: (Akhirnya jelas juga!)

Bapak: "Gw mau hapelo"

Gw: ....


OALAH TERNYATA PREMAN THO, BILANG KEK DARITADI

oke, status percakapan berubah, kalo gtu mari kita ulang sedikit


Preman: "Sekarang gw ngomong baek2 ya.."
Gw: (Akhirnya jelas juga!)
Preman: "Gw mau hapelo"
Gw: ....


Nah, karena gw lagi puyeng2nya..(karena tiba2 ditengah2 ada pergantian status percakapan), otomatis jawaban yg muncul adalah


Gw: Saya ga bisa kasih Pak


Preman: (liat)

Gw: (liat)

Preman: (liat)

Gw: (liat)


akhirnya si Bapak Preman pergi. Trus gw nyadar

Yakiyak!Tadi itu dia mau rampok gw yak?!


akhirnya sepanjang perjalanan pulang, seorang Bapak tak berdosa yang belakangan masuk mobil angcot, yang kebetulan mukanya mirip dengan si Preman yang tadi, jadi korban tatapan curiga seorang Dinar.